1. Golongan Darah ABO
Ada banyak golongan darah, tetapi yang terkenal di bidang medis adalah golongan darah ABO dan Rhesus.
Kedua golongan darah ini ditemukan oleh Dr. Karl Landsteiner, seorang
dokter dari Austria, pada tahun 1900. Semula Landsteiner menemukan
golongan darah A, B, dan C. Golongan C ini kemudian dinamakan golongan
O. Pada tahun 1902 kolega Landsteiner, yaitu Alfred Decastello dan
Adriano Sturli menemukan golongan ke empat yaitu golongan AB.
Dasar penggolongan darah ABO adalah adanya aglutinogen (antigen) pada eritrosit, dan adanya aglutinin (antibodi) di dalam plasma darah. Aglutinogen berarti antigen yang digumpalkan, sedangkan aglutinin adalah jenis antibodi yang menggumpalkan.
Menurut sistem ABO darah manusia terbagi atas 4 golongan, yaitu:|
Golongan Darah |
Genotip |
Antigen (aglutinogen) |
Antibody (agglutinin) |
frekuensi |
|
O |
OO |
- |
Anti-A dan anti-B |
± 40% |
|
A |
AA / AO |
A |
Anti-B |
± 26% |
|
B |
BB / BO |
B |
Anti-A |
± 27% |
|
AB |
AB |
AB |
- |
± 7% |
Pemahaman
mengenai aglutinogen dan aglutinin inilah yang mendasari teknik
transfusi darah. Dalam transfusi darah, orang yang memberikan darah
disebut donor, sedangkan yang menerima disebut resipien. Transfusi
(pindahtuang darah) ini harus memperhatikan masalah
aglutinin-aglutinogen, sebab jika terjadi inkompatibilitas
(ketakcocokan) golongan darah, maka akan menyebabkan terjadinya
aglutinasi (penggumpalan) darah, dan bisa menyebabkan kematian sang
resipien.
|
2. Inkompatibilitas ABO
Inkompatibilitas sel darah merah (inkompatibilitas ABO) dapat
disebabkan oleh dua hal, yang pertama akibat ketidakcocokan
(Inkompatibilitas) golongan darah ABO saat melakukan transfusi sehingga
terjadi reaksi hemolisis intravaskular akut dan juga dapat disebabkan
oleh reaksi imunitas antara antigen dan antibody yang sering terjadi
pada ibu dan janin yang akan dilahirkan.
Reaksi hemolisis intravaskular akut adalah reaksi yang disebabkan
inkompatibilitas sel darah merah (inkompatibilitas ABO). Antibodi
dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang
inkompatibel. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50
ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat. Semakin banyak volume
darah yang inkompatibel maka akan semakin meningkatkan risiko.
Penyebab terbanyak reaksi hemolisis intravaskular akut adalah
inkompatibilitas ABO. Hal ini biasanya terjadi akibat kesalahan
dalam permintaan darah, pengambilan contoh darah dari pasien ke tabung
yang belum diberikan label, kesalahan pemberian label pada
tabung dan ketidaktelitian memeriksa identitas pasien sebelum
transfusi. Selain itu penyebab lainnya adalah adanya antibodi
dalam plasma pasien melawan antigen golongan darah lain (selain
golongan darah ABO) dari darah yang ditransfusikan, seperti
sistem Idd, Kell atau Duffy.
Jika pasien sadar, gejala dan tanda biasanya timbul dalam
beberapa menit awal transfusi, kadang-kadang timbul jika telah
diberikan kurang dari 10 ml. Jika pasien tidak sadar atau dalam
anestesia, hipotensi atau perdarahan yang tidak terkontrol
mungkin merupakan satu-satunya tanda inkompatibilitas transfusi.
Pengawasan
pasien dilakukan sejak awal transfusi dari setiap unit darah. Dapat
terjadi lisis eritrosit donor karena antibodi resipien. Bila
terjadi cepat (segera setelah transfusi 50 ml darah) atau
lambat (beberapa jam beberapa hari). Dapat juga terjadi lisis
eritrosit resipien akibat antibodi donor, biasanya bersifat ringan,
dan sering terjadi pada transfusi dengan donor universal.
Tanda-tanda klinis :
- Segera : nyeri lumbal, nyeri sternal dan nyeri di tempat masuknya darah, demam disertai menggigil dan kekakuan, gelisah, mual, muntah, urtikaria, dispnea, dan hipotensi.
- Lanjut : perdarahan yang tidak dapat diatasi, hemoglobinuria, oliguria sampai anuria, ikterus dan anemia. Reaksi hemolitik dapat juga terjadi akibat penyimpanan darah yan kurang baik, darah kadaluwars atau darah yang sudah hemolisis karena terlalu dipanaskan/terlalu didinginkan
Peyebab kedua yang mengakibatkan Inkompatibilitas pada golongan darah
ABO adalah reaksi imunitas antara antigen dan antibody pada ibu dan
janin yang dikandungnya. Inkompatibilitas pada golongan darah ABO
terjadi jika Ibu golongan darah O mengandung janin golongan darah A
atau B.
Ibu yang golongan darah O secara alamiah mempunyai antibody anti-A dan
anti-B pada sirkulasinya. Jika janin mempunyai golongan darah A atau
B, eritroblastosis dapat terjadi. Sebagian besar secara alamiah,
membentuk anti-A atau anti-B berupa antibody IgM yang tidak melewati
plasenta. Beberapa ibu juga relative mempunyai kadar IgG anti-A atau
anti-B yang tinggi yang potensial menyebabkan eritroblastosis karena
melewati sawar plasenta.
Ibu golongan darah O mempunyai kadar IgG anti-A lebih tinggi daripada
ibu golongan darah B dan mempunyai kadar IgG anti-B lebih tinggi
daripada ibu dengan golongan golongan darah A. Dengan demikian,
penyakit hampir selalu terjadi bila golongan darah O. Penyakit jarang
terjadi bila ibu golongan darah A dan bayi golongan darah B. Kehamilan
pertama sering terkena sensitisasi ibu tejadi sejak awal kehidupan
melalui kontak dengan antigen A dan B. Penyakit tidak memburuk pada
kehamilan berikutnya yang juga terkena dan jika ada penyakitnya
cenderung menajdi lebih ringan.
Sekitar sepertiga bayi golongan A atau B dari ibu golongan darah O akan mempunyai antibody
ibu yang dapat dideteksi pada eritrositnya. Ini lebih sering terjadi
pada bayi golongan darah B daripada A dan lebih sering pada bayi kulit
hitam daripada bayi kulit putih dengan golongan darah A atau B. Hanya
sebagian kecil dari bayi ini yang akan mengalami gejala klinis. Pada
mereka dengan penyakit klinis, terdapat jauh lebih sedikit antibody ibu
yang melekat pada tempat antigen pada eritrosis daripa yang ada pada
penyakit Rhesus klinis. Akibatnya penyakit klinis sangat ringan
dengan reaksi antiglobulin langsung bervariasi dari hanya positif
secara mikroskopis sampai 2+. Ada sedikit atau tidak ada anemia dan
bilirubinemia dapat dikendalikan dengan dengan fototerapi atau pada
kebanyakan diatasi dengan satu transfuse tukar. Namun, IgG anti-A atau
IgG anti-B tampaknya lebih banyak menyebabakan hemolisis daripada
anti-Rh dalam jumlah yang sama. Dengan demikian bayi dengan reaksi
antiglobulin direk 2+ dengan penyakit ABO biasanya akan menderita
bilirubinemia lebih berat daripada bayi dengan 2+ karena penyakit Rh.
Ringannya Hemolytic Disease of Newborn (HDN)
ABO dapat dijelaskan sebagian oleh antigen A dan Antigen B yang belum
sepenuhnya berkembang pada saat lahir dan karena netralisir sebagian
antibody IgG ibu oleh antigen A dan B pada sel-sel lain yang terjadi
dalam plasma dan cairan jaringan. HDN ABO dapat ditemukan pada kehamilan
pertama dan dapat atau tidak mempengaruhi kehamilan berikutnya.
Pemeriksaan sediaan hapus darah memperlihatkan autoaglutinasi dan
sferositosis polikromasi dan eritroblastosis.
Hal-hal yang perlu diperhatikan berhubungan dengan hemolisis sistem
ABO : Ibu golongan darah O dapat membentuk anti-A dan anti-B. Destruksi
pada eritrosit janin bergolongan darah A atau B tergantung dari
kekuatan antigen A dalam eritrosit. Hemolisis pada sistem ABO terjadi
pada bayi baru lahir. Bayi berwarna kuning, karena bilirubin manifes ke
kulit. Berat ringannya bayi kuning tergantung dari kadar IgG. Ciri
khas destruksi: Mikro sferositosis menyebabkan fragil osmotik, volume
sel kecil, protein lipid membran sedikit sehingga aglutinasi mudah
terjadi.
Dua puluh sampai 25% kehamilan terjadi inkompabilitas ABO, yang berarti
bahwa serum ibu mengandung anti-A atau anti-B sedangkan eritrosit
janin mengandung antigen respective. Inkompabilitas ABO nantinya akan
menyebabkan penyakit hemolitik pada bayi yang baru
lahir dimana terdapat lebih dari 60% dari seluruh kasus. Penyakit ini
sering tidak parah jika dibandingkan dengan akibat Rh, ditandai anemia
neonatus sedang dan hiperbilirubinemia neonatus ringan sampai sedang
serta kurang dari 1% kasus yang membutuhkan transfusi tukar.
Inkompabilitas ABO tidak pernah benar-benar menunjukkan suatu penyebab
hemolisis dan secara umum dapat menjadi panduan bagi ilmu pediatrik
dibanding masalah kebidanan.
Mayoritas inkompatibilitas ABO diderita oleh anak pertama (40% menurut
Mollison), dan anak-anak berikutnya makin lama makin baik keadaannya.
Gambaran klinis penyakit hemolitik pada bayi baru lahir berasal dari
inkompabilitas ABO sering ditemukan pada keadaan dimana ibu mempunyai
tipe darah O, karena tipe darah grup masing-masing menghasilkan anti A
dan anti B yang termasuk kelas IgG yang dapat melewati plasenta untuk
berikatan dengan eritrosit janin. Pada beberapa kasus, penyakit
hemolitik ABO tampak hiperbilirubinemia ringan sampai sedang selama
24-48 jam pertama kehidupannya. Hal ini jarang muncul dengan anemia
yang signifikan. Tingginya jumlah bilirubin dapat menyebabkan
kernikterus terutama pada neonatus preterm. Fototerapi pada pengobatan
awal dilakukan meskipun transfusi tukar yang mungkin diindikasikan
untuk hiperbilirubinemia. Seks predominan eritroblastosis fetalis
akibat inkompatibilitas ABO adalah sama antara laki-laki dan perempuan.
3. Patofisiologi
Patofisologi yang dapat menjelaskan timbulnya reaksi hemolitik pada
inkompatibilas ABO akibat kesalahan transfusi adalah akibat antibodi
dalam plasma pasien akan melisiskan sel darah merah yang
inkompatibel. Meskipun volume darah inkompatibel hanya sedikit (10-50
ml) namun sudah dapat menyebabkan reaksi berat. Semakin banyak volume
darah yang inkompatibel maka akan semakin meningkatkan risiko
Sedangkan patofisologi yang dapat menjelaskan timbulnya penyakit
inkompabilitas Rh dan ABO adalah terjadi ketika sistem imun ibu
menghasilkan antibodi yang melawan sel darah merah janin yang
dikandungnya. Pada saat ibu hamil, eritrosit janin dalam beberapa
insiden dapat masuk kedalam sirkulasi darah ibu yang dinamakan fetomaternal microtransfusion. Bila
ibu tidak memiliki antigen seperti yang terdapat pada eritrosit janin,
maka ibu akan distimulasi untuk membentuk imun antibodi. Imun anti
bodi tipe IgG tersebut dapat melewati plasenta dan kemudian masuk
kedalam peredaran darah janin sehingga sel-sel eritrosit janin akan
diselimuti (coated) dengan antibodi tersebut dan akhirnya
terjadi aglutinasi dan hemolisis, yang kemudian akan menyebabkan anemia
(reaksi hipersensitivitas tipe II). Hal ini akan dikompensasi oleh
tubuh bayi dengan cara memproduksi dan melepaskan sel-sel darah merah
yang imatur yang berinti banyak, disebut dengan eritroblas (yang
berasal dari sumsum tulang) secara berlebihan.1,8,9,11,12,13
Produksi eritroblas yang berlebihan dapat menyebabkan pembesaran hati
dan limpa yang selanjutnya dapat menyebabkan rusaknya hepar dan ruptur
limpa. Produksi eritroblas ini melibatkan berbagai komponen sel-sel
darah, seperti platelet dan faktor penting lainnya untuk pembekuan
darah. Pada saat berkurangnya faktor pembekuan dapat menyebabkan
terjadinya perdarahan yang banyak dan dapat memperberat komplikasi.
Lebih dari 400 antigen terdapat pada permukaan eritrosit, tetapi secara
klinis hanya sedikit yang penting sebagai penyebab penyakit hemolitik.
Kurangnya antigen eritrosit dalam tubuh berpotensi menghasilkan
antibodi jika terpapar dengan antigen tersebut. Antibodi tersebut
berbahaya terhadap diri sendiri pada saat transfusi atau berbahaya bagi
janin. 4,9,11,12,14
Hemolisis yang berat biasanya terjadi oleh adanya sensitisasi maternal
sebelumnya, misalnya karena abortus, ruptur kehamilan di luar
kandungan, amniosentesis, transfusi darah Rhesus positif atau pada
kehamilan kedua dan berikutnya.2,3,7,9 Penghancuran sel-sel
darah merah dapat melepaskan pigmen darah merah (hemoglobin), yang mana
bahan tersebut dikenal dengan bilirubin. Bilirubin secara normal
dibentuk dari sel-sel darah merah yang telah mati, tetapi tubuh dapat
mengatasi kekurangan kadar bilirubin dalam sirkulasi darah pada suatu
waktu. Eritroblastosis fetalis menyebabkan terjadinya penumpukan
bilirubin yang dapat menyebabkan hiperbilirubinemia, yang nantinya
menyebabkan jaundice pada bayi. Bayi dapat berkembang menjadi
kernikterus.
Gejala lain yang mungkin hadir adalah peningkatan kadar insulin dan
penurunan kadar gula darah, dimana keadaan ini disebut sebagai hydrops
fetalis. Hydrops fetalis ditujukkan oleh adanya penumpukan cairan pada
tubuh, yang memberikan gambaran membengkak (swollen).
Penumpukan cairan ini menghambat pernafasan normal, karena paru tidak
dapat mengembang maksimal dan mungkin mengandung cairan. Jika keadaan
ini berlanjut untuk jangka waktu tertentu akan mengganggu pertumbuhan
paru. Hydrops fetalis dan anemia dapat menimbulkan masalah jantung.
Gambar 1. Interaksi antibodi dan antigen pada eritrosit.3 Gambar 2. Reaksi hipersensitivitas
4. Diagnosis
Diagnosis isoimunisasi berdasarkan deteksi antibodi pada serum ibu. Metode paling sering digunakan untuk menapis antibodi ibu adalah tes Coombs tak langsung. (penapisan antibodi atau antiglobulin secara tak langsung). Tes ini bergantung kepada pada kemampuan anti IgG (Coombs) serum untuk mengaglutinasi eritrosit yang dilapisi dengan IgG.
Untuk melakukan tes ini, serum darah pasien dicampur dengan eritrosit yang diketahui mengandung mengandung antigen eritrosit tertentu, diinkubasi, lalu eritrosit dicuci. Suatu substansi lalu ditambahkan untuk menurunkan potensi listrik dari membran eritrosit, yang penting untuk membantu terjadinya aglutinasi eritrosit. Serum Coombs ditambahkan dan jika imunoglobulin ibu ada dalam eritrosit, maka aglutinasi akan terjadi. Jika test positf, diperlukan evaluasi lebih lanjut untuk menentukan antigen spesifik.
Disamping tes Coombs, diagnosis dapat ditegakkan berdasarkan riwayat bayi yang dilahirkan sebelumnya, ikterus yang timbul dalam 24 jam pasca persalinan, kadar hemoglobin darah tali pusat < 15 gr%, kadar bilirubin dalam darah tali pusat > 5 mg%, hepatosplenomegali dan kelainan pada pemeriksaan darah tepi. 11
- 5. Penatalaksanaan
- Transfusi segera dihentikan, diambil lagi contoh darah pasien dan darah donor untuk pemeriksaan ulang.
- Perbaiki keadaan hipovolemia dengan plasma atau cairan kristaloid. Tekanan vena sentral dipantau.
- Koreksi keadaan asidosis, dan kemih dibuat menjadi sedikit alkalis. (pH = 8).
- Setelah volume cukup, berikan manitol 12,5 – 50 g selama 15 menit, Bila belum terjadi diuresis berikan furosemid 20 – 40 mg. Bila belum terjadi diuresis, segera dilakukan dialisis peritoneal (bila mungkin, lakukan hemodialisis).
- Hitung jumlah trombosit, partial tromboplastin time dan kadar fibrinogen serum.
- Bila terjadi koagulasi intra vaskuler yang menyeluruh (disseminated intra vasculer coagulation = DIC), segera dimulai terapi dengan heparin.
- Pasien harus dirawat di unit perawatan intensif, agar pemantauan dan berbagai tindakan dapat dilakukan dengan baik
5.1 Transfusi tukar :
Tujuan transfusi tukar yang dapat dicapai :
1. memperbaiki keadaan anemia, tetapi tidak menambah volume darah
2. menggantikan eritrosit yang telah diselimuti oleh antibodi (coated cells) dengan eritrosit normal (menghentikan proses hemolisis)
3. mengurangi kadar serum bilirubin
4. menghilangkan imun antibodi yang berasal dari ibu
Yang perlu diperhatikan dalam transfusi tukar :
a. berikan darah donor yang masa simpannya ≤ 3 hari untuk menghindari kelebihan kalium
b. pilih darah yang sama golongan ABO nya dengan darah bayi dan Rhesus negatif (D-)
c. dapat diberikan darah golongan O Rh negatif dalam bentuk Packed red cells
d. bila keadaan sangat mendesak, sedangkan persediaan darah Rh.negatif tidak tersedia maka untuk sementara dapat diberikan darah yang inkompatibel (Rh positif) untuk transfusi tukar pertama, kemudian transfusi tukar diulangi kembali dengan memberikan darah donor Rh negatif yang kompatibel.
e. pada anemia berat sebaiknya diberikan packed red cells
f. darah yang dibutuhkan untuk transfusi tukar adalah 170 ml/kgBBbayi dengan lama pemberian transfusi ≥ 90 menit
g. lakukan pemeriksaan reaksi silang antara darah donor dengan darah bayi, bila tidak memungkinkan untuk transfusi tukar pertama kali dapat digunakan darah ibunya, namun untuk transfusi tukar berikutnya harus menggunakan darah bayi.
h. sebelum ditransfusikan, hangatkan darah tersebut pada suhu 37°C
i. pertama-tama ambil darah bayi 50 ml, sebagai gantinya masukan darah donor sebanyak 50 ml. Lakukan sengan cara diatas hingga semua darah donor ditransfusikan.
Tabel 1. Calon donor transfusi tukar pada Rh inkompatibilitas. 1
|
GOLONGAN DARAH IBU |
|||||
|
O |
A |
B |
AB |
||
|
GOLONGAN DARAH BAYI |
O |
O |
O |
O |
- |
|
A |
O |
A |
O |
A |
|
|
B |
O |
O |
B |
B |
|
|
AB |
- |
A |
B |
AB |
|
5.2 Transfusi intra uterin :
Pada tahun 1963, Liley memperkenalkan transfusi intrauterin. Sel eritrosit donor ditransfusikan ke peritoneal cavity janin, yang nantinya akan diabsorbsi dan masuk kedalam sirkulasi darah janin (intraperitoneal transfusion).
Bila paru janin masih belum matur, transfusi intrauterin adalah
pilihan yang terbaik. Darah bayi Rhesus (D) negatif tak akan mengganggu
antigen D dan karena itu tak akan merangsang sistem imun ibu
memproduksi antibodi. Tiap antibodi yang sudah ada pada darah ibu tak
dapat mengganggu darah bayi. Namun harus menjadi perhatian bahwa risiko
transfusi intrauterin sangat besar sehingga mortalitas sangat tinggi.
Untuk itu para ahli lebih memilih intravasal transfusi, yaitu dengan
melakukan cordocentesis (pungsi tali pusat perkutan). Transfusi
dilakukan beberapa kali pada kehamilan minggu ke 26–34 dengan
menggunakan Packed Red Cells golongan darah O Rh negatif
sebanyak 50–100 ml. Induksi partus dilakukan pada minggu ke 32 dan
kemudian bayi dibantu dengan transfusi tukar 1x setelah partus. Induksi
pada kehamilan 32 minggu dapat menurunkan angka mortalitas sebanyak
60%.
Gambar 4. Transfusi intra uterin
5.3 Transfusi albumin
Pemberian albumin sebanyak 1 mg/kg BB bayi, maka albumin akan mengikat
sebagian bilirubin indirek. Karena harga albumin cukup mahal dan
resiko terjadinya overloading sangat besar maka pemberian albumin banyak ditinggalkan.
5.4 Fototerapi
Foto terapi dengan bantuan lampu blue violet dapat menurunkan kadar bilirubin. Fototerapi sifatnya hanya membantu dan tidak dapat digunakan sebagai terapi tunggal.
Gambar 5. Foto terapi pada bayi dengan Rh Inkompatibilitas. 3
- 6. Prognosis
Pengukuran titer antibodi dengan tes Coombs indirek < 1:16 berarti
bahwa janin mati dalam rahim akibat kelainan hemolitik tak akan terjadi
dan kehidupan janin dapat dipertahankan dengan perawatan yang tepat
setelah lahir. Titer yang lebih tinggi menunjukan kemungkinan adanya
kelainan hemolitik berat. Titer pada ibu yang sudah mengalami
sensitisasi dalam kehamilan berikutnya dapat naik meskipun janinnya
Rhesus negatif.
Jika titer antibodi naik sampai secara klinis bermakna, pemeriksaan
titer antibodi diperlukan. Titer kritis tercapai jika didapatkan nilai
1:16 atau lebih. Jika titer di dibawah 1:32, maka prognosis janin
diperkirakan baik.
6.1 Mortalitas
Angka mortalitas dapat diturunkan jika :
1. Ibu hamil dengan Rhesus negatif dan mengalami imunisasi dapat dideteksi secara dini
2.
Hemolisis pada janin dari ibu Rhesus negatif dapat diketahui melalui
kadar bilirubin yang tinggi didalam cairan amnion atau melalui sampling
pembuluh darah umbilikus yang diarahkan secara USG
3.
Pada kasus yang berat, janin dapat dilahirkan secara prematur sebelum
meninggal di dalam rahim atau/dan dapat diatasi dengan transfusi
intraperitoneal atau intravaskuler langsung sel darah merah Rhesus
negatif. Pemberian Ig-D kepada ibu Rhesus negatif selama atau segera
setelah persalinan dapat menghilangkan sebagian besar proses
isoimunisasi D.
6.2 Perkembangan anak selanjutnya.
Menurut Bowman (1978), kebanyakan anak yang berhasil hidup setelah
mengalami tranfusi janin akan berkembang secara normal. Dari 89 anak
yang diperiksa ketika berusia 18 bulan atau lebih, 74 anak berkembangan
secara normal, 4 anak abnormal dan 11 anak mengalami gangguan tumbuh
kembang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar