Senin, 13 Mei 2013

Di usia tujuh belas tahun, gelar dokter berhasil diraih Tiffani Sharon Kairupan melalui program akselerasi. Tidak heran jika ia dinobatkan menjadi dokter termuda di Indonesia versi MURI.
“Semua ini tidak membuat saya lupa bersyukur kepada Tuhan karena telah diberikan anugerah luar biasa dan berkat terbesar dalam hidup,” ucap Tiffani, tersenyum.
Dikaruniai otak cemerlang membuatnya mudah menghafal, bukan  berarti ia memiliki waktu khusus untuk belajar.
“Hobi saya bukan belajar, tapi membaca novel. Tidak ada waktu khusus untuk membaca buku pelajaran, kalau ada waktu saja,” ujar wanita kelahiran 25 Juni 1994.

Ketagihan Akselerasi
Mengikuti orang tuanya yang ketika itu menjalani pendidikan di Australia, Tiffani mengenyam pendidikan di Clayton Primary School, Vic. Australia (1999), Bouchier St. Primary School, Vic. Australia (2000).
“Akhir tahun 2000, kami sekeluarga pindah ke Manado di mana saya menyelesaikan sekolah dasar di GMM IX. Seharusnya, saya duduk di kelas satu. Karena ada perbedaan kalender akademik antara Indonesia dan Australia, saya diperbolehkan di kelas dua. Di bulan Juni 2001, saya naik kelas tiga dengan jangka waktu tujuh bulan saja. Enam bulan berada di kelas lima, seorang guru dan kepala sekolah menawarkan saya untuk mengikuti pendidikan di kelas enam,” ucap putri pasangan Prof. dr. B.H.R. Kairupan, MSc, SpKJ(K) dan Prof. N.H. Kapantow, DAN, MSc, SpGK.

Tiffani mengaku jika awalnya ia ragu menerima tawaran kepala sekolahnya karena masih kecil dan takut bergaul dengan teman yang usianya lebih tua. “Saya khawatir tidak bisa menyesuaikan diri dengan pelajaran kelas enam,” kata Tiffani. Berkat dukungan dan ketekunannya, ia lulus dari SD di usia sepuluh tahun.
Tapi ternyata, ia ketagihan mengikuti program akselersi kurikulum berbasis kompetensi (KBK) dari pemerintah yang hanya dua tahun saat SMP dan SMA. Di usia 14 tahun, Tiffani sudah lulus dari SMA. Kuliahnya pun  diselesaikan hanya 3 tahun satu bulan, dengan judul skripsi ‘Profil Status Mental Mahasiswa Baru Fakultas Kesehatan Masyarakat tahun akademik 2011-2012’.

“Terlibat dalam program akselerasi membuat saya memiliki banyak waktu untuk mencoba sesuatu yang baru,” kata Tiffani, tersenyum.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar